:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1524547/original/090522500_1488444097-AR_Baswedan--oke.jpg)
Anies Baswedan punya kenangan sendiri terkait perjuangan kakeknya saat kemerdekaan. Kakenya yang merupakan Menteri Muda Penerangan menjadi salah satu delegasi yang ikut rombongan Menteri Muda Luar Negeri H Agus Salim ke sejumlah negara timur tengah. Kepergian mereka ke luar negeri untuk mencari dukungan dan pengakuan negara-negara lain atas kemerdekaan Indonesia. Salah satu yang dituju adalah Mesir.
"Kemerdekaan itu sendiri perlu pengakuan, dan pengakuan itu datang dari negara lain. Karena itu kemudian Indonesia mengirimkan sebuah delegasi untuk mendapatkan pengakuan itu. Kakek saya panggilannya AR Baswedan. Dia jadi salah satu yang berangkat waktu itu ke Mesir," ujar Anies saat berkunjung ke kantor Liputan6.com, Jakarta, Kamis (13/8/2015).
Anies mengatakan, perjalanan kakeknya bersama rombongan delegasi itu begitu sederhana. Termasuk pakaian para delegasi yang tak semewah pakaian pejabat sekarang. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Mesir merasa iba saat melihat kondisi para delegasi tersebut.
"Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di sana melihat kasihan dengan delegasi-delegasi kita yang ala kadarnya itu," ucap mantan Rektor Universitas Paramadina itu mengingat-ingat lagi kisah yang pernah diceritakan kakeknya itu.
Di Mesir, Indonesia mencoba mendapat pengakuan. Tepat pada 10 Juni 1947, Menteri Luar Negeri Mesir menerima rombongan delegasi Indonesia.
Singkat cerita, Mesir menyetujui untuk menandatangani surat "Pengakuan Mesir terhadap Kedaulatan Republik Indonesia". Surat itu ditandatangani Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Mesir Nokrashi Pasha, sementara dari Indonesia ditandatangani oleh Agus Salim. Alhasil, Mesir menjadi negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
"Begitu mendapatkan pengakuan dari Mesir, lalu diputuskan surat ini harus sampai ke Tanah Air. Karena pengakuan internasional itu menjadi kunci," ucap Anis.
Akhirnya diputuskan salah satu delegasi yang pulang ke Tanah Air adalah AR Baswedan. Anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu bukan tak tahu akan bahaya yang mengancam dengan kepulangannya membawa sepucuk surat begitu berharga dan amat penting di tangannya.
Dalam berbagai catatan sejarah, Agus Salim bahkan sampai mengatakan, "Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah Saudara sampai Tanah Air atau tidak, yang penting dokumen-dokumen ini harus sampai di Indonesia dengan selamat." Tentu perjalanan yang ditempuh AR Baswedan juga harus jauh karena transit di sejumlah tempat, seperti Bahrain, Karachi, Kalkuta, Rangon, dan Singapura.
Anies menceritakan, ongkos perjalanan dengan pesawat yang dilakukan kakeknya itu merupakan urunan dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Mesir. Ketika sampai di India pun orang-orang Indonesia di India juga turut patungan untuk membeli tiket pesawat.
Sesampainya di Singapura, yang artinya sudah dekat dengan Indonesia, AR Baswedan juga tidak serta langsung bisa masuk. Sebab dia menunggu situasi Tanah Air setelah Belanda menggencarkan agresi militernya pada 1946 yang tengah tak menentu.
Apalagi pemerintahan Indonesia tengah "dipindahkan" ke Yogyakarta saat itu. Di samping itu, AR Baswedan juga menjadi orang-orang yang paling dicari militer Belanda agar surat pengakuan Mesir tak sampai ke tangan Sukarno.
from Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2PNgXzJBagikan Berita Ini
ReplyDeleteIzin ya admin..:)
Player vs Player WOW langsung saja kunjungin kami di ARENADOMINO tempat bermain Poker dan kartu yang sangat menyenangkan dan hadiah nyata menanti anda semua.. WA +855 96 4967353